Memberi atau Tidak
Memberi atau tidak…???
Beberapa hari yang lalu, aku melihat tulisan yang sangat menarik “Memberi berarti anda ingin mereka tetap menjadi pengemis”.. tulisan ini terpajang di perempatan dekat Ratu Plaza..
tidak bisa kita pungkiri, di ibu kota tercinta ini kita akan menemukan banyak sekali gelandangan, pengemis dan pengamen hampir di setiap perempatan jalan.. terutama perempatan besar.. mulai dari anak kecil yang cuma tepuk tangan dan nyanyi ga jelas.. ibu-ibu yang bawa kemoceng dan cuma membersihkan ala kadarnya.. pengemis dengan muka memelas, baju lusuh, dan penampilan yang bikin hati ini iba melihatnya..
sulit sekali untuk membedakan mana yang benar-benar membutuhkan dan mana yang memang menjadikan pekerjaan mengemis ini mata pencaharian mereka.. percaya atau tidak? Aku sering kali melihat pengemis di pinggir jalan itu tengah bersantai di kolong jembatan dan dengan asiknya bermain telepon genggam.. padahal telepon genggam itu sendiri butuh makan alias butuh pulsa.. atau bahkan orang tua yang tengah merokok dan mengawasi anaknya yang disuruhnya mengemis.. padahal dengan mengajarkan anak kecil meminta-minta itu berarti menanamkan rasa malas dan pikiran dimana hanya dengan menadahkan tangan saja dapat menghasilkan uang.. dan beberapa kali aku baca artikel di majalah mengenai kehidupan pengemis yang sebenarnya.. bahwa mereka memiliki rumah dan penghidupan yang layak.. bahkan ada yang sampai punya sepeda motor.. tapi ya itu mereka senang mengemis karena penghasilan dari pekerjaan itu lumayan.. keterlaluan memang tapi inilah kenyataannya..
terkadang aku merasa kasihan dengan mereka.. terutama sama yang kakek-kakek dan penyandang cacat.. ga tau knapa setiap melihat pengemis yang kakek-kakek aku pasti memberi.. hanya suka kepikiran aja siy, kok kasihan banget, di usianya yang sudah tua masih saja harus meminta-minta.. mungkin untuk bekerja pun sudah tak mampu.. kemana anak-anaknya.. yang seharusnya bertanggung jawab.. atau mungkin anak-anaknya pun sudah pusing dengan urusan rumah tangga masing-masing sehingga tidak peduli dengan si kakek itu.. haaah berbagai macam pikiran terlintas di benakku.. lain lagi dengan penyandang cacat.. mereka meminta karena memang di Negara kita ini tidak disediakan lapangan pekerjaan untuk mereka.. sekalipun ada sangaaaaaat terbatas.. jadi menurut aku wajarlah mereka meminta walaupun jauh lebih baik kalau dia mencari pekerjaan lain.. tapi mereka kan tetap butuh makan.. jadi siapa yang salah???..
percuma rasanya untuk mencari siapa yang salah? Siapa yang bertanggung jawab atas kondisi masyarakat yang seperti ini? Pemerintah?.. sepertinya tidak juga.. kadang Pemerintah menjalankan berbagai macam program untuk mengurangi tingkat kemiskinan.. tapi yaa itu sepertinya mereka nyaman dengan pekerjaan mengemis.. mereka tidak perlu pusing berpikir untuk mendapatkan uang.. tidak perlu berjuang dengan kemacetan Jakarta untuk mencapai kantor.. hihi..
apa yang bisa kita lakukan? Mungkin benar apa yang dimaksud dengan tulisan yang aku baca itu.. “Memberi berarti anda ingin mereka tetap menjadi pengemis”.. jadi mulai sekarang belajarlah untuk tidak memberi mereka.. kasihan memang dan terlihat kejam, tapi akan lebih kasihan lagi kalau mereka tetap hidup dalam pemikiran indahnya mengemis.. biarkan mereka dewasa.. berlomba untuk meningkatkan kreativitas diri dan mengasah kemampuannya.. banyak yang bisa dilakukan selain mengemis kan?..






